. أنا من هذه النفسى: Kisah di Pondok Pesantren Bukan Kisah Cinta Biasa

Kisah di Pondok Pesantren Bukan Kisah Cinta Biasa


            Fina af’idatussofa adalah gadis berkelahiran 22 september 1991 di salatiga jawa tengah. Dia adalah penulis novel “Gus Yahya Bukan Cinta Biasa”. Senyum manis yang selalu tergambar  di wajahnya menggambarkan suasana keceriaan yang selalu ia rasakan. Assabiqunal Awwalun adalah salah satu komunitas belajar Qaryah Thayyibah (Q-Tha) yang dipilih oleh Fina af’idatussofa. Sejak SD, fina sudah memulai sejarah menulisnya. Namun baru ia tekuni ketika memasuki SMP dengan bukti prestasinya menjuarai kompetisi menulis online di Salatiga. Tidak berbeda dengan kebanyakan anak lainnya, ternyata sikapnya yang tidak menyukai adanya UAN ia ungkapakan melalui goresan pena di sebuah karangan yang berjudul “Lebih Asyik Tanpa UAN” dapat mengantarkannya untuk mendapatkan anugerahi Award sebagai Anak Kreatif 2006 oleh Kak Seto. Sosok putri kiai yang fina rasakan dengan segudang prestasi, tidak mengubah penampilannya yang sederhana dan tidak sombong.  
Pengagum Fatimah Az Zahra r.a. ini ternyata hanya membutuhkan waktu dua minggu untuk menyelesaikan novel populernya yang berjudul “Gus Yahya Bukan Cinta Biasa”.    
Lanjuuut  >>>>>>>>>>>

 
 Novel populernya tersebut telah menjadi omongan khas para santri yang menggemari novel bernuansa pesantren. Cerita ini  ditokohi oleh seorang gadis yang bernama zahra dan seorang anak laki-laki yang bernama Yahya. Zahra adalah santri yang baru memasuki pondok pesantren. Sedangkan yahya adalah putra dari kiai pesantren yang zahra tinggali. Sejak pertemuan Gus Yahya dengan Zahra pertama kali di ndalem (rumah kiai dalam bahasa jawa), Gus Yahya sudah menaruh hati pada santri baru ini. Walaupun ia putra kiai tidak menutup kemungkinan baginya untuk mendekati santri baru di pondok pesantren Abahnya. Gus Yahya sudah melakuakan  segala cara untuk mendekati Zahra. Mulai dari melakukan kebiasaan Zahra belajar menyeruling bersama Yadi, seorang santri yang membantu pekerjaan pondok pesantren di pematang sawah. Sampai perilaku yang norak pun ia lakukan, seperti mengirim bunga mawar dan surat cinta yang diletakkan di teras pesantren putri. Tidak hanya itu, Gus Yahya juga tak kenal lelah menyapa Zahra dengan pesan kertasnya yang ia letakkan di kursi taman, tempat Zahra biasa belajar setiap hari dan sepanjang waktu. Sayangnya, Zahra tetap pada pendiriannya untuk tidak bertindak apapun dalam menghadapi gerakan cinta Gus Yahya. Dengan situasi tersebut santri baru di pesantren abah Gus Yahya  malah sibuk dengan tugas-tugas belajarnya di pesantren. Untungnya cinta Gus Yahya tidak pernah pupus walaupun harus jatuh bangun agar dapat membuktikan bahwa cinta itu dapat dimengerti. Cinta Gus Yahya tidak mengenal istilah habis meskipun harus berhadapan dengan pergantian waktu yang hampir tujuh tahun. Bahkan sampai tiba waktunya bagi Zahra untuk keluar dari pesantren, Gus Yahya tetap tersenyum menyampaikan cintanya. Tentu saja karena cinta Gus Yahya bukan cinta biasa.
Lahirnya sebuah novel yang berkarakterkan santri-santri dalam lingkup pondok pesantren ini tergambar dari kepribadian Fina yang bernuansa islami. Sikap ramahnya pada setiap orang juga tergambar dari karya novelnya yang disampaikan dengan bahasa komunikatif. Alur cerita dalam novel sangat runtut sehingga pembaca dapat terbawa oleh karakter yang berada di dalamnya. Tidak salah jika novel fina digolongkan dalam kriteria novel  Pesantren based Islamic "teenlit" karena novel karyanya juga menceritakan kehidupan keseharian para santri seperti dalam hal menyapa , berta’dhim (menghormati) pada kiai , serta penggunaan istilah-istilah khas para santri. Fina juga menuturkan bahwa banyak nilai berharga dari “Ketradisionalan” pesantren yang dapat menjawab problem modernitas remaja saat ini. Ia mengupas persoalan remaja tersebut dan mencoba menawarkan solusinya. Tentunya penuturan tersebut lebih mudah diterima karena ditulis dari sudut pandang dan gaya remaja. Terakhir, setelah pembaca mengetahui jejak kehidupan sang pengarang, mungkin akan sulit untuk mengelak bahwa novel karyanya hanya murni fiksi belaka.
Demikianlah percak-percik kisah dalam pondok pesantren seakan memaksa pembaca untuk ikut bergabung dalam lingkup kehidupan pesantren. Sehingga pembaca dapat mengerti arti kehidupan sebenarnya melalui kaca mata sederhana dan kepasrahan yang sudah menjadi tradisi di pondok pesantren.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

6 komentar:

wahyu eko julianto mengatakan...

ilmu adalah pelita kehidupan.
http://cahtalok.blogspot.com

Embun Aksara mengatakan...

Terimkasih apresiasinya..
Visit me ^^

http://embunmuhammad.blogspot.com/
Fina Afida

Umar Belo mengatakan...

assalamualaikum.mbak fina,jazakallahu laki khairan jaza',tulisan mbak,kata-kata penuh dakwah yang menyentuh hati,dakwah bil qalam,begitu indah!

Azzam Al-Akhdan mengatakan...

wah wah wah istimewah

Agus muhammad ramdan mengatakan...

wowwww wowww wowww .. hehehe ,
slam kenal foll back

Fina Af'idatussofa mengatakan...

wa'alaikumussalam warahmatullah... insya Allah...

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Cinta demi Cita-Cita dan Gapailah Cita-Cita demi Cinta

LaGgi